Kamis, 16 Mei 2013

Namanya Faisal dan Dia Istimewa

Sudah beberapa minggu ini aku tak lagi mengelana dan pulang malam.
Aku lebih suka secepatnya menyelesaikan urusan di luar lalu pulang.
Kegiatanku hanya diam di rumah.
Diam sembari menemaninya.

Si ganteng yang aktif, cerdas, lincah, pandai menari, penyuka budaya sunda, soleh, rajin ke masjid, lucu, dan pintar bergaul hingga semua orang dari kalangan anak kecil, mahasiswa, sampai orangtua dari RT 1 sampai RT 6 di Gang Nangkasuni tak ada yang tak mengenalnya.
Ya, dia adalah adik lelakiku satu-satunya, Faisal Syihab.
Dialah yang belakangan ini membuatku selalu ingin pulang kerumah lebih cepat dari biasanya.

Adikku yang satu ini (dan satu-satunya) sangatlah istimewa.
Bahkan Allah memberinya tiket masuk surga bersamaan dengan kelahirannya ke dunia! Istimewa sekali bukan?.
Aku tidak berbohong.
Ini sebuah kenyataan yang pasti. Tiket surga memang telah dia pegang. Adikku akan masuk surga. Pasti!
Aku tidak mengkhayal.
Bukankah Allah tidak akan menghitung amal orang yang mentalnya tidak normal? adikku sejak lahir begitu, mentalnya terbelakang. Dia suci sejak lahir hingga selamanya.
Oh iya! Maaf aku lupa bilang, dalam ilmu kedokteran istimewanya adikku itu biasa disebut, Down Syndrome atau Syndroma Down.

Dengan keistimewaan yang ia punya, adikku yang sekarang berumur 18tahun belum mampu berbicara dengan benar, dia menggunakan bahasa sendiri yang hanya keluargakulah yang mampu memahaminya.
Dia seperti anak SD yang belum mampu membaca, dan menulis.
Dia seperti anak SMP dengan postur tubuhnya yang jauh dibawah normal remaja berumur 18tahun, jari-jarinya yang pendek, kepalanya yang kecil dan mukanya yg "mongoloid" membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
Namun terkadang dia juga seperti anak SMA yang bisa mengoprasikan komputer, bermain game online, mengerti suasana hati orang, dan bahkan dia sudah mengenal mana perempuan cantik dan mana yang tidak. hahaha~

Tapi... entahlah aku harus sedih, kesal, marah atau apa
Sekarang dia seperti anak TK.
Bukan, bukan.
Adikku yang sekarang kini lebih seperti anak Playgroup bahkan bayi!.
Tidak bisa berdiri kalau tidak dibantu, tidak bisa berjalan, sehari-hari hanya berbaring di kasur, buang air juga dikasur dengan dibantu, dan sistem imun tubuhnya pun berkurang dari biasanya.

Pada awalnya jalan adikku sedikit miring, saat itu aku pikir itu hanya keisengannya yang suka bergaya ala lengser.
Lama-kelamaan miringnya mulai terasa janggal. Akhirnya Bapak dan Mamah membawanya ke dokter anak tempat biasa adikku berobat jika sakit, Dokter Kusnandi.
Dokter yang juga menjadi dokter yang menanganiku saat aku masih kecil itu bilang bahwa yang dialami adik aku tidaklah aneh karena memang hal itu normal sering terjadi pada anak istimewa lainnya.
Tidak aneh, sering terjadi, normal dan namanya adalah pengeroposan tulang dini alias osteoporosis.
Osteoporosis pada anak berumur 18tahun!

Dokter lain yaitu spesialis orthopedi dengan gelar yang lebih panjang dari namanya pun keluargaku datangi. Tapi nihil.
Beliau tidak berani mengambil tindakan yang ekstra karena kondisi adikku yang tidak bisa bicara.
Setiap kali Check-up ke Dokter tersebut adikku menghabiskan waktu sekitar setegah jam untuk bangun dan pindah ke kursi roda, setengah jam untuk dilap dan berganti pakaian, setengah jam untuk keluar rumah sampai ke depan gang, setengah jam untuk turun dari kursi roda lalu naik ke mobil dan setengah jam lainnya untuk turun dari mobil ketika sampai di tempat Check-up. Begitu pun pulangnya.
Tapi sampai disana treatment yang didapat sekedar mengobrol dan disinar inframerah. Bahkan terkadang adikku dipakai uji coba oleh dokter-dokter koas yang ada disana.
Karena kasian pada adikku dan takut dia terlalu lelah, Bapak memutuskan untuk terapi dirumah saja dengan bantuan bantuan keluarga dan alat seadanya.
Dan beginilah sekarang, adikku hanya diam dirumah.

Dan tahukah kamu? si istimewa yang dimiliki adikku ternyata punya banyak teman. Banyak sekali.
si Down Syndrome berteman dengan gangguan mata, katarak, gangguan pendengaran, gangguan pencernaan, dislokasi tulang, kelemahan otot, hypotiroid, dan leukimia.
si Down Syndrome juga bersahabat dekat dengan gangguan pernafasan dan kelainan jantung.
bahkan Alzheimer yang terkenal itu pun sudah mengontrak untuk berpasangan dengannya saat si Down Syndrome berumur 30an nanti.

Yaa Allah haruskah begitu?
Sebanyak itukah bonus yang Engkau berikan untuk anak istimewa seperti adikku?
Aku tahu aku kakak yang sangat buruk. Aku hanya menjalani rutinitas biasa dengannya, aku kadang lupa kalau dia istimewa hingga aku tak mencari tahu bahwa ternyata ada terapi-terapi yang harus dia lakukan
Aku hanya menemaninya seperti aku menemani adik biasa bukan adik istimewa
Tapi, egokah aku jika kupinta Kau membuatnya berjalan lagi?
Tolong jangan biarkan hal-hal yang berat berteman dengannya, aku mohon
Adikku anak yang soleh, dia selalu rajin shalat dan mengaji. Aku pun sedang dan akan selelu berusaha menjadi seperti itu, janji
Aku ingin menjadi kakak yang baik untuknya

Namanya Faisal dan Dia Istimewa.
Sampai hari kemarin, kakinya masih belum bisa jalan, belum ada tanda-tanda perkembangan
Hari ini, untuk pertama kalinya, dia bercerita dengan bahasanya tentang dadanya yang terasa sakit.
Sekarang jam 3.42 malam, sejak tidur tadi dia sudah terbangun 4 kali karena nafasnya yang tersengal.
Aku takut.......